Kamis, 15 Desember 2011

Komunikasi dalam Kepemimpinan

BAB I
PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menjalankan proses administrasi dan interaksi antar elemen pada suatu organisasi atau lembaga, baik internal maupun eksternal. Tanpa adanya jalinan komunikasi yang baik dan benar besar kemungkinan semua proses di dalam organisasi/lembaga tersebut tidak akan dapat berjalan dengan maksimal dan sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemampuan komunikasi yang baik akan sangat membantu semua proses yang ada dalam suatu organisasi/lembaga.
Terkait dengan kepemimpinan maka komunikasi yang baik sangatlah penting dimiliki oleh suatu pemimpin karena berkaitan dengan tugasnya untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, mendorong anggota untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta mencapai efektifitas dalam kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan, manejemen konflik serta proses-proses organisasi lainnya. Lalu bagaimana mungkin komunikasi bisa berjalan dengan baik jika seorang pemimpin tidak memberikan “kenyamanan” malahan yang ada adalah “ketakutan” bagi “bawahannya” dalam menyampaikan informasi kepadanya?
Hal inilah yang akan dibahas dalam penyusunan makalah ini yaitu mengenai :
1.      Bagaimana konsep komunikasi kepemimpinan yang baik?
2.      Apakah fungsi komunikasi kepemimpinan?
3.      Hambatan apa saja yang sering dialami dalam komunikasi kepemimpinan?
4.      Apakah urgensi komunikasi organisasi bagi pemimpin?












BAB II
PEMBAHASAN

1.                  Konsep Komunikasi Kepemimpinan
Pengertian komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin communis atau dalam bahasa inggrisnya common berarti sama. Apabila kita berkomunikasi berarti kita dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan suatu persamaan dalam hal sikap dengan seseorang. Jadi pengertian komunikasi secara harfiah adalah proses menghubungi atau mengadakan perhubungan.[1]
Dalam komunikasi diperlukan sedikitnya tiga unsur  yaitu sumber (source), berita atau pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber dapat berupa individu atau organisasi komunikasi. Berita atau pesan dapat berupa tulisan, gelombang suara atau komunikasi arus listrik, lambaian tangan, bendera berkibar, atau benda lain yang mempunyai arti. Sasaran dapat berupa seorang pendengar, penonton, pembaca, anggota dari kelompok diskusi, mahasiswa, dan lain-lain.
Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.[2]  Komunikasi organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Struktur organisasi cenderung mempengaruhi komunikasi, dengan demikian komunikasi dari bawahan kepada pimpinan sangat berbeda dengan komunikasi antar sesamanya.
Di dalam organisasi dikenal dengan susunan organisasi formal dan informal.  Komunikasi formal mengikuti jalur hubungan formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam struktur organisasi. Komunikasi informal arus informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi tersebut.
Di dalam sebuah organisasi pemimpin adalah sebagai komunikator. Pemimpin yang efektif pada umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif sehingga sedikit banyak akan mampu merangsang partisipasi orang-orang yang dipimpinnya. Dia juga harus piawai dalam melakukan komunikasi baik komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata, sementara komunikasi non verbal adalah komunikasi yang tidak disampaikan dengan menggunakan kata-kata, berisi penekanan, pelengkap, bantahan, keteraturan, pengulangan, atau pengulangan informasi verbal. Komunikasi verbal yang baik dapat dilakukan dengan menggunakan tutur kata yang ramah, sopan, dan lembut. Komunikasi non verbal dapat dilakukan dengan mengkomunikasikan konsep-konsep yang abstrak misalnya kebenaran, keadilan,etika, dan agama secara non verbal misal menggunakan bahasa tubuh.

2.      Fungsi Komunikasi kepemimpinan
Menurut weihric dan Koontz ada 6 fungsi yaitu :[3]
·         Menetapkan dan menyebarkan tujuan organisasi
·         Mengembangkan rencana untuk mencapainya
·         Mengorganisasi SDM dari sumber-sumber lain untuk menciptakan cara yang paling efektif dan efisien
·         Memilih, mengembangkan, dan menilai anggota-anggota dari organisasi
·         Mengarahkan, mengatur, memotivasi, dan menciptakan suatu iklim dimana para komunitas bersedia untuk berkontribusi
·         Mengontrol aksi/tindakan/kineria
Menurut Robbins ada 4 fungsi utama komunikasi yaitu :[4]
·           Kendali (control/pengawasan)
·           Motivasi
·           Pengungkapan emosional
·           Informasi
3.      Hambatan-hambatan dalam komunikasi kepemimpinan
a.       Hambatan dalam proses komunikasi pada umumnya
·         Hambatan yang bersifat geografis
Proses komunikasi yang terjadi antar dua individu atau lebih akan mudah berlangsung jika kedu-duanya berada dalam tempat yang tidak berjauhan. Tetapi bila berjauhan maka aka nada kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi.
·         Hambatan yang bersifat biologis
Yaitu dikarenakan perbedaan biologis manusia contohnya panca indra, tidak semua punya panca indra lengkap/normal.
·         Hambatan yang bersifat teknis
Didapati pada alat-alat komunikasi massa yang tidak selamanya bekerja dengan normal/sempurna
·         Hambatan yang bersifat sosil-budaya
Ada pertentangan paham/ideology di antara golongan dalam masyarakat sehingga sulit dipertemukan.
b.      Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan penugasan kerja
·         Apa yang di katakana kepada bawahan
Komunikasi biasanya akan lancer bila menyangkut kepentingan pribadi/nasib bawahan dan sebaliknya
·         Kapan hal itu dikatakan
Apabila informasi disampaikan dalam waktu yang sudah kadaluarsa maka komunikasi tidak akan berhasil baik
·         Cara mengatakan
Apabila informasi disampaikan dengan kata-kata yang baik, ramah, menaruh kepercayaan pada bawahan maka komunikasi akan berjalan dengan baik begitu pula sebaliknya.
4.      Urgensi Komunikasi Kepemimpinan
a.       Untuk mengirimkan penetapan-penetapan kebijaksanaan dan instruksi-instruksi melalui tingkatan-tingkatan
b.      Untuk mengembalikan saran-saran
c.       Untuk memberitahukan tentang tujuan-tujuan organisasi kepada bawahan secara menyeluruh








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Komunikasi dalam sebuah kepemimpinan merupakan suatu unsure yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan yang akan diraih oleh suatu organisasi. Oleh karena itu seorang pemimpin hendaklah piawai dalam berkomunikasi baik itu verbal maupun non verbal.  Komunikasi yang baik  akan  akan mampu meningkatkan motivasi, sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan hal ini akan mampu meningkatkan kinerja serta control kerja juga akan terlaksana dengan baik
























Daftar Pustaka

Moedjiono Imam,2002,”Kepemimpinan dan Keorganisasian”,(Yogyakarta : UII Press)
Munir Abdullah,2008,”Menjadi Kepala Sekolah Efektif”,(Yogyakarta:Ar-Ruzz Media)


[1] Imam Moedjiono,”Kepemimpinan dan Keorganisasian”(Yogyakarta:UII Press,2002),hal165
[2] Ibid hal 167
[3] Abdulah Munir, (Yogyakarta :Ar-Ruzz media,2008), hal44
[4] Ibid hal 45

Kepemimpinan Pendidikan

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas individu mata kuliah Leadership,
yang diampu oleh Bapak Nur Hamidi



Disusun oleh :
Nama    : Iga Mawarni Ayuningtyas
              No Absen   : 06
  Nim   : 09410022



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan merupakan factor yang sangat penting dalam suatu organisasi. Peran seorang pemimin itu sangat dominan dalam pencapaian tujuan suatu organisasi, sepertihalnya dalam bidang pendidikan. Kepemimpinan dalam bidang pendidikan sangat dibutuhkan guna mencapai tujuan dari pendidikan.
Pencapaian tujuan pendidikan juga didasarkan pada manajemen yang baik. Aturan-aturan yang diciptakan untuk dapat mengatur tiap personil sekolah dalam pencapaian tujuan. Dalam kegiatannya seorang pemimpin pendidikan itu harus mampu mengerahkan dan mengarahkan bawahanya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin pendidikan harus bisa memberikan arahan yang jelas pada bawahannya  mengenai tugas yang harus mereka laksanakan sehingga mempermudah bawahanya dalam melaksanakan tugasnya dan menuai hasil yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

B.     Rumusan Masalah
Sehubungan dengan pentingnya kepemimpinan dalam bidang pendidikan, maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berhubungan dengan kepemimpina pendidikan yaitu :
1.      Apakah kepemimpinan pendidikan itu?
2.      Bagaimana kepala sekolah dan kepemimpinan pendidikan?
3.      Bagaimana transformasi kepemimpinan pendidikan itu?

C.     Tujuan Penulisan
Secara umum penulisan makalah ini bertujuan untuk mengungkap beberapa hal yang berhubungan dengan kepemimpinan pendidikan, selain itu penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Leadership yang diampu oleh Bapak Nur Hamidi.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Kepemimpinan Pendidikan
Istialah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengertian dimana kata “pendidikan” menerangkan dalam lapangan apa dan dimana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekaligus menjadi sifat dan cirri-ciri bagaimana yang harus dimiliki pemimpin itu.
Pada hakekatnya pemimpin adalah seorang yang mampu mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[1] Menurut Hadari Nawawi, kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yeng terarah pada pencapaian tujuan. Robbin (1999: 365) mengartikan kepemimpinan sebagai berikut:
“ leadership as ability to influence a group toward the achievement goals”.  Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi kelompok untuk mempengaruhi kelompok untuk dapat mencapai tujuan.
Kepemimpinan pendidikan memiliki pengertian yang sangat beragam karena banyak tokoh yang mengemukakan pemikirannya mengenai kepemimpinan pendidikan. Sauders mengemukakan “education leadership is any act which facilitates the achievement of education objectives.” Bagi dia kepemimpinan pendidikan adalah beberapa tindakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Dengan demikian kepemimpinan pendidikan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh pemimpin pendidikan (sebagai leader) untuk mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan.
Secara garis besar kepemimpina pendidikan dapat diartikan sebagai kemampuan kemampuan pemimpin pendidikan dalam mempengaruhi para guru, staf administrasi dan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan serta mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki pendidikan. Perilaku pemimpin pendidikan menjadi suri tauladan bagi semua personel pendidikan yang pada akhirnya dapat tercipta budaya pendidikan yang lebih maju. Kepemimpinan pendidikan sebagai pemprakarsa pemikiran baru dalam proses interaksi di lingkungan pendidikan. Kemampuan melakukan perubahan atau penyesuaian tujuan, sasaran, prosedur, input, proses ataupun outpun dari suatu pendidikan sesuai dengan tuntutan perkembangan, merupakan bagian dari aktifitas kepemimpinan pemimpin pendidikan.[2]
Seorang pemimpin harus mengetahui fungsi dari kepemimpinannya seperti juga pemimpin pendidikan. Adapun fungsi kepemimpinan pendidikan menurut Soekarto Indrafachrudi (1993 : 33) pada dasarnya dibagi menyadi dua, yaitu :
1.      Fungsi kepemimpinan pendidikan yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai
a.       Pemimpin berfungsi memikirkan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai serta menjelaskannya pada anggotanya agar tujuan tersebut dapat dicapai.
b.      Pemimpin berfungsi memberi dorongan atau motivasi terhadap bawahannya.
c.       Pemimpin berfungsi untuk membantu para anggotanya dalam memberikan keterangan yang diperlukan agar dapan memberikan pertimbangan yang sehat.
d.      Pemimpin berfungsi menggunakan kesempatan dan potensi yang dimiliki anggotanya.
2.      Fungsi kepemimpinan yang berhubungan dengan suasana pekerjaan yang sehat dan menyenangkan
a.       Pemimpin berfungsi memupuk dan memelihara kebersamaan di dalam kelompok.
b.      Pemimpin berfungsi untuk mengusahakan tempat bekerja yang menyenangkan sehingga dapat dipupuk suasana dan semangat bekerja.
c.       Pemimpin dapat menanamkan dan memupuk perasaan bahwa mereka termasuk dalam kelompok dan merupakan bagian dalam kelompok.

Selain fungsi kepemimpinan pendidikan Soekarto juga mengemukakan mengenai syarat-syarat kepemimpinan pendidikan, syarat-syarat tersebut ialah :
1.      Memiliki kesehatan jasmaniah dan rohaniah yang baik.
2.      Berpegang teguh pada tujuan yang akan dicapai.
3.      Cerdas, bersemangat, dan jujur.
4.      Cakap dalam memberikan bimbingan.
5.      Cepat serta bijaksana dalam pengambilan keputusan.

B.     Kepala Sekolah dan Kepemimpinan Pendidikan
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, dilihat dari status dan cara pengangkata tergolong pemimin resmi, formal leader, atau status leader. Status leader dapat meningkat menjadi functional leader. Tergantung dari prestasi dan kemampuan di dalam memainkan perannya sebagai pemimpin pendidikan sekolah yang telah diserahkan pertanggungjawabannya padanya.
Kepala sekolah sebagai pemimpin kependidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu guru-guru dan murid disekolah yang ia pimpin guna tercapainya tujuan pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah harus bisa memahami, mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Meskipun struktur dan fungsi kepala sekolah itu bervariasi baik dalam hal lokasi dan ukuran sekolah, akan tetapi yang penting seorang kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap semua aspek operasional penyelenggaraan sekolah. Itulah sebabnya menjadi seorang kepala sekolah itu tidaklah mudah. Untuk menjalankan tanggung jawab seorang kepala sekolah harus memiliki standar kualifikasi tertentu, baik standar yang berhubungan dengan kualifikasi akademik maupun standar yang berhubungan dengan kompetensi fungsional. Oleh karena itu untuk menjadi kepala sekolah harus memiliki sertifikat kepala sekolah.

Kualifikasi umum kepala sekolah / madrasah menurut Permendiknas no 13 tahun 2007 ialah :
1.      Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D IV) kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi.
2.      Pada waktu diangkat menjadi kepala sekolah setingggi-tingginya berusia 56 tahun.
3.      Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya lima tahun menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya tiga tahun di TK/RA.
4.      Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi non-PNS diserahkan denagan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang.
Di era manajemen berbasis sekolah (MBS) ini kepala sekolah tidak hanya dituntut untuk bekerja berdasarkan rutinitas tertentu, seperti menyusun rencana strategic sekolah, memantau dan menilai implementasi pembelajaran, akan tetapi mereka harus mengambil prakarsa untuk melakukan perubahan-perubahan dimana dan kapan sajadiperlukan demi memajukan sekolahnya. Lunenberg & Ornstein menggolongkan peran kepala sekolah menjadi tiga kategori, yaitu :[3]
a.       Peran kepemimpinan,
Peran kepemimpinan berhubungan dengan peran untuk mempengaruhi pengikutnya untuk selalu mengikuti arahanya dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan atau melaksanakan tugas sekolah dalam rangka mengembangkan dan memajukan sekolah.
b.      Peran manajerial,
Peran ini berhubungan dengan peran untuk menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yang secara umum meliputi fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pergerakan atau pelaksanaan kegiatan (actuating), dan fungsi pengendalian (controlling). Dalam hubungannya dengan fungsi-fungsi manejemen tersebut maka kepala sekolah harus selalu berusaha untuk menggerakkan sumber daya organisasi sekolah sedemikian rupa kearah pencapaian misi dan tujuan organisasi sekolah.
c.       Peran pengembang kurikulum dan pembelajaran. 
Peran sebagai pengembang kurikulum dan pelaksana proses pembelajaran meliputi ;
ΓΌ  Meningkatkan kualitas pembelajaran.
ΓΌ  Melakukan supervisi dan evaluasi pembelajaran,
ΓΌ  Membuat perencanaan mengenai alokasi waktu pembelajaran,
ΓΌ  Mengkoordinasikan pengembangan dan implementasi kurikulum,
ΓΌ  Mengembangkan dan meningkatkan kuantitas dan kualitas materi pembelajaram.
ΓΌ  Melakukan pemantauan kemajuan belajar siswa.



C.     Transformasi Kepemimpinan Pendidikan
Setiap kepemimpinan memiliki karakteristik tertentu yang berbeda seperti hanya kepemimpinan pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dengan mengacu pada pendapat para ahli sebagaimana diuraikan pada pembahasan sebelumnya, dengan dilandasi karakteristik kehidupan manajemen pendidikan yang kompleks dan dinamis, dilandasi oleh prinsip-prinsip keterbukaan, akuntabilitas, kepemimpinan pendidikan kedepan harus menekankan pada hal-hal antara lain:[4]
a.       Gaya kepemimpinan yang demokratis, partisipatif dan kolegial.
b.      Kepemimpinan yang menekankan budaya kerja positif.
c.       Kepemimpinan pendidikan lebih bersifat pemberdayaan bukan memaksakan kehendak.
d.      Kepemimpinan yang berorientasi pada pengembangan keprofesionalisme pendidik.
e.       Kepemimpinan yang kompeten, meliputi teknis dan interpersonal.

Kepala sekolah sebagai pemimpin kependidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu guru-guru dan murid disekolah yang ia pimpin guna tercapainya tujuan pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah harus bisa memahami, mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkungan sekolah.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai kepemimpinan pendidikan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.      Kepemimpinan pendidikan ialah kemampuan pemimpin pendidikan dalam mempengaruhi para guru, staf administrasi dan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan serta mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki pendidikan.
2.      Kepala sekolah sebagai pemimpin kependidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu guru-guru dan murid disekolah yang ia pimpin guna tercapainya tujuan pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah harus bisa memahami, mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
3.      Kepala sekolah sebagai pemimpin kependidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu guru-guru dan murid disekolah yang ia pimpin guna tercapainya tujuan pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah harus bisa memahami, mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkungan sekolah.















DAFTAR PUSTAKA


Nanang Fattah. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Rosdakarya,.
Wuradji. 2008. The Education Leadership Kepemimpinan Transformasional, Yogyakarta: Gama Media.
Rohmat. 2010. Kepemimpinan Pendidikan Strategi Menuju Sekolah Efektif. Yogyakarta: Cahaya Ilmu.




[1] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 1996) hal. 88.
[2] Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan Strategi Menuju Sekolah Efektif, (Yogyakarta: Cahaya Ilmu), 2010. Hal. 47
[3] Wuradji, The Educational Leadership Kepemimpinan Transformasional, (Yogyakarta: Gama Media), 2008, hal. 95.
[4] Ibid. hal 107

makalah Media Bagan

MEDIA BAGAN
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
mata kuliah Pengembangan Media PAI
Dosen Pengampu : Bpk. Sukiman

Disusun Oleh :

Nailir Rahmawati Syahidah 09410014
Apri Kusmiyani 09410020
Iga Mawarni Ayuningtyas 09410022



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN KEGURUAN
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan manusia, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Bisa dikatakan dengan bantuan media guru dapat mempermudah pelajar dalam proses pembelajaran.
Dengan mengetahui beberapa jenis media, perlu diketahui karakteristik dari jenis-jenis media tersebut, sehingga guru dapat memilih,menggunakan serta memanfaatkan media tersebut, agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk itu dalam makalah ini akan dikemukakan salah satu media instruksional edukatif yaitu bagan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah bagan beserta tujuannya ?
2. Apa saja macam-macam bagan yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui bagan beserta tujuannya.
2. Untuk mengetahui macam-macam bagan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.









BAB II
PEMBAHASAN
Istilah bagan meliputi berbagai jenis presentasi grafis seperti peta, grafik, ukisan, diagram, poster dan bahkan kartun. Dalam hubungan ini, bagan didefinisikan senagai kombinasi antara media grafis dan gambar foto yang dirancang untuk memvisualisasikan secara logis dan teratur mengenai fakta pokok atau gagasan. Fungsi yang utama dari bagan adalah menunjukkan hubungan, perbandingan, jumlah relatif, perkembangan, proses, klasifikasi dan organisasi.
Bagan termasuk media visual. Fungsi pokoknya adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara verbal. Bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Bagan adalah gambaran suatu situasi atau suatu proses yang dibuat dengan gari gambar dan tulisan. Tujuan pembuatan bagan:
1. Menerangkan suatu situasi, suatu proses secara simbolik dengan menggunakan garis-garis, gambar-gambar dan tulisan.
2. Menerangkan bermacam-macam keterangan menjadi satu.
3. Memberi gambaran tentang hubungan antara suatu keadaan dengan keadaan lain secara simbolis di dalam situasi.
Karakteristik yang ada pada bagan adalah:
1. Sederhana, mudah dilihat dan dibaca
2. Tidak terlalu banyak konsep didalamnya, tidak harus terlalu rinci, serta tidak banyak digunakan kata-kata
3. Warna-warna yang digunakan harus menambah kejelasan
Bagan hampir sama dengan diagram. Bedanya bagan lebih menekankan kepada suatu perkembangan atau suaatu proses atau susunan suatu organisasi. Bagan ada kalanya disertai simbol atau gambar, maka hal ini sifatnya piktorial. Beberapa macam bentuk bagan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu :
1. Bagan organisasi
Bagan organisasi adalah bagan yang menggambarkan struktur sebuah organisasi. Dalam bagan ini dapat dilihat dengan jelas bidang-bidang yang terdapat di dalamnya. Begitu pula jelas siapa yang bertanggung jawab kepada siapa serta menggambarkan otoritas dalam bidang masing-masing dan dalam organisasi keseluruhan.
2. Bagan arus
Bagan arus dapat diartikan sebagai beberapa anak sungai yang menuju kesatu arah yang sama untuk bersama-sama melahirkan sebuah sungai yang baru. Sebuah bagan arus dapat menggambarkan bagaimana dari macam-macam bahan mentah yang datangnya dari berbagai penjuru dunia bisa dibuat satu benda yang baru sama sekali. Bagan arus menggambarkan arah suatu proses atau dapat pula menelusuri tanggung jawab, hubungan kerja antara berbagai bagian atau bidang (seksi) suatu organisasi.
Bagan arus seringkali menggunakan tanda panah untuk menggambaarkan arah arus suatu ide atau gagasan yang akan divisualisasikan. Untuk membuat bagan arus, seorang pengajar terlebih dahulu membuat pokok atau ide-ide materi yang akan ditungkan pada bagan arus. Kemudian hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Bentuknya sederhana
b. Sajian ide atau gagasannya harus jelas
c. Ide yang dituangkan jangan mebingungkan pelajar atau penerima pesan
d. Materinya pokok saja dan tidak perlu detail
e. Sesuai dengan metode
f. Sesuai tujuan pembelajaran
g. Perhatikan unsur keindahannya, bila perlu menggunakan warna tertentu sebagai unsur penonjolan dari suatu sajian ide tersebut.
3. Bagan pohon
Bagan pohon ibarat sebatang pohon yang tumbuh dengan cabang-cabang dan ranting-ranting dimana bergantungan buah-buahan. Bagan pohon digunakan untuk menjelaskan bahwa dari satu benda dapat dihasilkan berbagai benda yang lain. Bagan pohon biasanya dipakai untuk menunjukkan sifat suatu masalah, komposisi hubungan antar kelas dan keturunan, hubungan antara suatu masalah, silsilah, dll.





4. Bagan proses
Bagan proses ialah bagan yang digunanakan untuk menggambarkan tahap-tahap pembuatan sesuatu atau proses sesuatu. Bagan ini juga berguna bagi analisis system untuk mengetahui kesesuaian prosedur dari suatu proses.

Contoh bagan organisasi










Contoh bagan arus





Contoh bagan Pohon






Contoh bagan Proses














BAB III
PENUTUP
Dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan bahwa bagan terdiri dari empat jenis, antara lain : bagan organisasi, bagan arus, bagan pohon dan bagan proses. Dimana keempatnya terdapat persamaan dan juga perbedaan. Persamaannya ialah keempat bagan tersebut digunakan sebagai media dalam mempermudah proses pembelajaran, sehingga hasilnya dapat maksimal. Sedangkan perbedaannya adalah terletak pada materi yang akan disampaikan sehingga bagan yang digunakan disesuaikan dengan materi yang disampaikannya.
















DAFTAR PURTAKA
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2009. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Sanaki, Hujair AH. 2009. Media Pembelajaran.Yogyakarta : Safira Insania Pers.
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Munadi,Yudhi. 2008. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Gaung persada Pers : Jakarta.

Rabu, 01 Desember 2010

psikologi pendidikan islam

PSIKOLOGI ISLAM
Abdul Mujib
Iftitah
Menghadirkan wacana baru, yang kemudian diabadikan dalam nama Psikologi Islam atau Psikologi Islami merupakan suatu keniscayaan. Paling tidak ada dua sisi yang dapat dilihat dalam menelaah fenomena ini. Dari sisi pengembangan ilmu, upaya ini sebagai pembanding atau bahkan counter discourse terhadap teori-teori psikologi yang dibangun dari paradigma sekuler. Masyarakat religius, khususnya masyarakat Muslim Indonesia, tidak mungkin menggunakan teori-teori psikologi sekuler. Selain bias budaya, teori-teori tersebut bebas nilai yang menafikan unsur-unsur metafisik dan spiritual-transendental. Masyarakat Muslim lebih tepat menggunakan teori psikologi berbasis keislaman, karena teori itu dapat mengkaver seleuruh perilakunya dan menunjukkan self-image maupun self-esteem sebagai seorang muslim yang sesungguhnya. Sedang dari sisi praktisnya, pengembangan psikologi Islam merupakan oase baru bagi praktisi psikologi, konseling dan psikoterapi dalam menjalankan tugas dan fungsinya, untuk menciptakan suasana batin yang sejahtera dan bahagia hakiki.
Dalam usianya yang relatif belia (periode puber), psikologi Islam yang dikumandangkan oleh komunitas terbatas baru menghadirkan sajian (1) kajian dalam bentuk diskusi, seminar dan temu ilmiah nasional; (2) pembentukan organisasi, yang pada tingkat nasional terwadahi dalam Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi); (3) penerbitan buku dan jurnal ilmiah yang bertemakan psikologi Islam; dan (4) memasukkan psikologi sebagai bagian dari mata kuliah wajib atau pilihan di beberapa perguruan tinggi.
Terdapat beberapa alasan mengapa pengembangan psikologi Islam masih berputar pada kalangan terbatas. Pertama, sulit ditemukan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan integratif antara Islam dan psikologi. Mereka saling menunggu siapa yang duluan memulai, apakah sarjana agama ataukah sarjana psikologi; Kedua, sulit menggabungkan metodologi pengembangan ilmu, antara empiris (syahadah) versus meta-empiris (ghayb), induktif versus deduktif, apa adanya versus bagaimana seharusnya, bebas etik versus sarat etik, kuantitatif versus kualitatif, positivistik-empiris versus doktriner-normatif dan antroposentris versus teosentris; Ketiga, Psikologi Islam sebagai bagian dari studi Islam memiliki batasan-batasan yang tidak semunya dapat dijangkau oleh metodologi ilmu empiris, sebab tidak semua fenomena keagamaan dapat diukur melalui tes-tes psikologi, seperti masalah kecerdasan spiritual/keruhanian, masalah keimanan dan ketakwaan.
Psikologi Islam hadir dengan penuh tantangan sekaligus peluang bagi mereka yang concern terhadap pengembangan sains Islami. Ber-Islam secara kaffah menuntut pada pemeluknya untuk lebih intens dan kreatif dalam pengembangan wacana ini, tanpa menunggu apalagi menghujat terhadap usaha-usaha produktif dari komunitas psikologi Islam. Masih banyak hal yang perlu mendapat uluran pemikiran dan keberanian dalam membuat kebijakan, antara lain (1) bidang akademik; perlu memasukkan mata kuliah Psikologi Islam sebagai mata kuliah wajib. Atau, menjadikan wacana keislaman sebagai basis pengembangan semua mata kuliah psikologi. Usaha ini merupakan embrio yang mendorong mahasiswa untuk mengambil tema-tema psikologi Islam dalam penelitian skripsi, tesis maupun disertasi; (2) bidang penelitian; mulai berani menggunakan teori dari Islam sendiri, seperti indikator-indikator religiusitas diambil dari Hadis Nabi Saw mengenai iman, islam dan ihsan serta mulai berani menyusun instrumen penelitian yang diturunkan dari kerangka ilmiah Islami; (3) bidang pelatihan; perlu mengembangkan desain pelatihan yang bernuansakan Islami, sehingga mampu menciptakan manusia yang produktif dan kreatif dengan dasar iman dan takwa.
Untuk mengisi itu semua, penulis baru mampu mengkonstruks konsep yang dikodifikasi dari para mufassir, muhadis, teolog, filosof dan sufi untuk kemudian disistematisasi dalam kerangka psikologi. Rekan dialog sangat penulis butuhkan dalam rangka implementasi gagasan menjadi alat penelitian, eksperimen dan pelatihan. Jika ini dilakukan maka cita-cita menjadikan psikologi Islam sebagai mazhab kelima setelah psikoanalisis, psikobehavioristik, psikohumanistik dan psikotranspersonal akan tercapai, atau paling tidak dapat menelorkan psikologi pribumi (indigenous psychology) yang dapat mengkaver sosok manusia muslim Indonesia.
Karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun tulisan lepas di Jurnal ilmiah, dapat diakses. Karya ilmiah yang dimaksud antara lain:

Dalam Bentuk Buku:
Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005
Ruh dan Psikospiritual Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008
Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002
Fitrah & Kepribadian Islam; Sebuah Pendekatan Psikologis. Jakarta Darul Falah, 1999
Risalah Cinta: Seri Psikologi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
Apa Arti Tangisan Anda; Seri Psikologi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
Islam dan Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
Ilmu Pendidikan Islam: Telaah atas Kerangka Konseptual Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006
Ilmu Pendidikan Islam: Telaah atas Komponen Dasar Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006
Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta Kencana Prenada Media Jakarta, 2005
Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya. Bandung: Trigenda Karya, 1993
Problematika Wanita. Surabaya: Karya Abditama, 1994
Dimens-dimensi Studi Islam. Surabaya: Karya Abditama, 1995
Psikologi Islam; Tipologisasi atas Karya Psikologi Islam Kontemporer di Indonesia. Jakarta: Tazkia Press, 2005